Selasa, 18 Oktober 2016


“TANDUK INDUK MERAH PUTIH”

Ribuan peluru tak pernah henti menghujani desa ku, para penjajah itu sungguhlah tak punya hati nurani. Menangis aku melihat sekitarku penuh dengan tumpukan mayat keluargaku, sahabatku, dan teman-temanku sekarang sudah tiada. Mungkin sekarang Pardi, Mulyadi,dan Surmini sahabatku itu sudah tenang tanpa genjatan senjata lagi. Mungkin di dunia nya sana desaku sudah merdeka dan terbebas dari semua yang aku alami saat ini.
“ Junaidi... cepat lagi penjajah itu datang kembali!” Pak Rusdi meneriakiku hingga menghentikan tangisanku,sembaring kompeni belanda itu datang meluluh-lantahkan desaku kembali. Aku pun tanpa pikir panjang sontak kuberlari menuju tempat persembunyian.
“ Kau itu Junet, masih beraninya menampakan dirimu, bagaimana jika londo Belanda itu menembakimu?” khawatir Pak Rusdi Padaku. Beliau memang sosok pejuang sekaligus pahlawan menurutku. Sosok yang tangguh dan memiliki keinginan kuat untuk menjadikan desa dan negeri ini terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang.
“ Hehe... maafkan saya Pak Rus, saya hanya ingin melihat kondisi di sekitar, saya jenuh dengan tempat persembunyian ini.”
“ kau ini Jun...Jun... Mbok ya sabar, nyawa kok kau pertaruhkan. Masih untung kau ini selamat dari tembakan kemarin. Coba kalau tak ada Pak Rusdi, sudah habis kau jun” saut Mbok rati padaku dengan sedikit gemas karena ulahku tadi.
Persembunyian ini bukan tidak mungkin suatu saat akan terkepung oleh londo-londo itu. Segala strategi sudah kami rencanakan jauh-jauh hari untuk melawan para penjajah. Gerakan perlawanan muncul karena Pak Rus, beliau tak ingin sisa hidupnya beliau habiskan dengan cara dijajah, beliau lebih baik mati dari pada terus-menerus melihat penjajahan ini sampai ke penjuru negeri yang sangat beliau cintai.
“ Junet... tak inginkah dan tak pernahkah engkau memikirkan bagaimana masa depanmu? Apa kau akan terus begini? Jika besar nanti mau jadi apa engkau Jun...?” serbuan pertanyaan Pak Rus menghujaniku deras.
“ Lha mau bagaimana to Pak... kita semua disini saja setiap hari selalu was-was, apa besok kita masih hidup atau tertembak oleh londo-londo belanda itu. Lalu bagaimana saya bisa membayangkan masa depan saya...? saya ndak mau bermimpi tinggi-tinggi Pak, kalau gak kesampaian itu lho sakitnya Masyallah...”
Aku tak pernah membayangkan bagaimana masa depanku nanti, yang aku pikirkan adalah cara agar esok dan seterusnya aku bisa bertahan hidup dari dentingan racun-racun peluru mematiakan itu.
“ Masa depan itu kamu yang menentukan, bukan londo-londo kurang ajar itu. He Junet... apa ya kamu ndak merasa beruntung, kamu itu satu-satunya....
pemuda yang selamat dari maut dua petang hari yang lalu. Apa kamu ndak merasa sudah ditakdirkan untuk merubah masa depanmu, atau bahkan bangsamu ini...?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar