“TANDUK INDUK MERAH PUTIH”
Ribuan
peluru tak pernah henti menghujani desa ku, para penjajah itu sungguhlah tak
punya hati nurani. Menangis aku melihat sekitarku penuh dengan tumpukan mayat
keluargaku, sahabatku, dan teman-temanku sekarang sudah tiada. Mungkin sekarang
Pardi, Mulyadi,dan Surmini sahabatku itu sudah tenang tanpa genjatan senjata
lagi. Mungkin di dunia nya sana desaku sudah merdeka dan terbebas dari semua
yang aku alami saat ini.
“
Junaidi... cepat lagi penjajah itu datang kembali!” Pak Rusdi meneriakiku hingga
menghentikan tangisanku,sembaring kompeni belanda itu datang meluluh-lantahkan
desaku kembali. Aku pun tanpa pikir panjang sontak kuberlari menuju tempat
persembunyian.
“
Kau itu Junet, masih beraninya menampakan dirimu, bagaimana jika londo Belanda
itu menembakimu?” khawatir Pak Rusdi Padaku. Beliau memang sosok pejuang
sekaligus pahlawan menurutku. Sosok yang tangguh dan memiliki keinginan kuat
untuk menjadikan desa dan negeri ini terbebas dari penjajahan Belanda dan
Jepang.
“
Hehe... maafkan saya Pak Rus, saya hanya ingin melihat kondisi di sekitar, saya
jenuh dengan tempat persembunyian ini.”
“
kau ini Jun...Jun... Mbok ya sabar, nyawa kok kau pertaruhkan. Masih untung kau
ini selamat dari tembakan kemarin. Coba kalau tak ada Pak Rusdi, sudah habis
kau jun” saut Mbok rati padaku dengan sedikit gemas karena ulahku tadi.
Persembunyian
ini bukan tidak mungkin suatu saat akan terkepung oleh londo-londo itu. Segala
strategi sudah kami rencanakan jauh-jauh hari untuk melawan para penjajah.
Gerakan perlawanan muncul karena Pak Rus, beliau tak ingin sisa hidupnya beliau
habiskan dengan cara dijajah, beliau lebih baik mati dari pada terus-menerus
melihat penjajahan ini sampai ke penjuru negeri yang sangat beliau cintai.
“
Junet... tak inginkah dan tak pernahkah engkau memikirkan bagaimana masa
depanmu? Apa kau akan terus begini? Jika besar nanti mau jadi apa engkau
Jun...?” serbuan pertanyaan Pak Rus menghujaniku deras.
“
Lha mau bagaimana to Pak... kita semua disini saja setiap hari selalu was-was,
apa besok kita masih hidup atau tertembak oleh londo-londo belanda itu. Lalu
bagaimana saya bisa membayangkan masa depan saya...? saya ndak mau bermimpi
tinggi-tinggi Pak, kalau gak kesampaian itu lho sakitnya Masyallah...”
Aku
tak pernah membayangkan bagaimana masa depanku nanti, yang aku pikirkan adalah
cara agar esok dan seterusnya aku bisa bertahan hidup dari dentingan racun-racun
peluru mematiakan itu.
“
Masa depan itu kamu yang menentukan, bukan londo-londo kurang ajar itu. He
Junet... apa ya kamu ndak merasa beruntung, kamu itu satu-satunya....
pemuda
yang selamat dari maut dua petang hari yang lalu. Apa kamu ndak merasa sudah
ditakdirkan untuk merubah masa depanmu, atau bahkan bangsamu ini...?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar